Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012

Blue Bird Group Peduli Sungai Ciliwung



Dalam rangka menjadikan sungai Ciliwung sebagai salah satu ekowisata di Jakarta, Blue Bird Group bekerjasama dengan komunitas Ciliwung Condet mengedukasi masyarakat untuk melestarikan lingkungan sekitar sungai Ciliwung dengan berbagai kegiatan berunsur pendidikan.

“Selain untuk menjadikan sungai Ciliwung sebagai ekowisata, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pelestarian lingkungan, sekaligus memperlihatkan kerusakan yang terjadi di sekitar sungai dan memberikan solusi mengenai upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kerusakan tersebut,” Noni Purnomo, Vice President Business Development Blue Bird Group, mengatakan.

Noni mengatakan bahwa sungai ini dianggap sungai yang paling parah mengalami kerusakan dibandingkan sungai-sungai lain yang mengalir di Jakarta, untuk itu sebagai perusahaan yang peduli lingkungan, Blue Bird Group ingin membantu memberikan solusi untuk mengatasi kerusakan tersebut.

Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, sungai Ciliwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena sungai Ciliwung mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat dan pemukiman kumuh.

“Sungai Ciliwung dapat digunakan sebagai penampung resapan air tanah, terutama di musim kemarau seperti sekarang ini,” Kodir, Ketua Komunitas Ciliwung, menambahkan.

Kodir menjelaskan bahwa sungai Ciliwung merupakan sungai yang relatif lebar dan melewati banyak kota, serta banyak dimanipulasi untuk mengendalikan banjir sehingga perlu dijaga kebersihannya.

Setiap kali banjir melanda Jakarta, orang selalu menghubungkan dengan sungai Ciliwung dan anak-anak sungainya. “Sungai-sungai di Jakarta memang sudah dianggap merupakan tempat pembuangan sampah yang paling murah dan tanpa peduli dampaknya, pembuangan sampah terus saja terjadi,” kata Kodir.


Selain itu, Noni juga menambahkan bahwa kegiatan yang mengusung tema Green Social for Save Ciliwung ini juga diadakan agar masyarakat dapat mengenal lebih dalam budaya, adat istiadat dan kuliner Betawi.

Kegiatan yang akan dilakukan, antara lain pelatihan untuk membuat kerajinan kertas, atraksi silat betawi dan atraksi ular Sioux.

Kegiatan susur desa dan susur sungai juga akan dilakukan agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat daerahnya. Selain itu, juga akan diadakan lomba fotografi dan lomba menulis untuk para wartawan dan blogger.


“Sungai Ciliwung sangat cocok untuk dijadikan ikon karena sungai Ciliwung memiliki peran besar untuk lingkungan Jakarta,” Teguh Wijayanto, Head of Public Relations Blue Bird Group, menambahkan disela-sela kegiatan bersama masyarakat Condet, Jakarta Timur.

Pada masa lampau sungai Ciliwung merupakan sumber kehidupan utama masyarakat karena berbagai aktivitas dilakukan disini, mulai dari keperluan rumah tangga sehari-hari hingga jalur perdagangan internasional. Sungai Ciliwung sudah berperan dari jaman purba, ketika manusia prasejarah menghuni Jakarta. 





Sumber : facebook

Rabu, 30 Mei 2012

Kisah Perjalanan Inspiratif "Sang Burung Biru" Dibukukan

Launching buku 'Sang Burung Biru' | Foto: Oke/@IRNewscom

Berawal dari armada yang jumlahnya 25 unit, kini 'burung biru' berhasil melebarkan sayapnya hingga jumlah armada menjadi 22.000 unit. Tentu saja, perjalanan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada kisah-kisah yang mengiringi keberhasilan armada berlambang burung ini. Sebagai wujud berbagi kisah inspiratif, Blue Bird Group menghadirkan  buku berjudul 'Sang Burung Biru', Selasa (29/05).

Bertempat di FX Mall Senayan Jakarta Selatan, diadakan lauching buku tersebut. Tidak tanggung-tanggung, acara ini dihadiri oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Prof. Rhenald Kasali, Penulis buku Alberthiene Endah , Penulis buku bestseller 'Young on Top' Billy Boen, dan Wakil Menteri Perhubungan RI Ir. Bambang Soesantono.

Di usia matangnya, yakni 40 tahun, Blue Bird Group telah melahyani lebih dari  8,5 juta penumpang dalam sebulan se-antero Indonesia. Bahkan, pelbagai  penghargaan berhasil diraih dari beberapa lembaga telah sebagai bukti pencapaian atas prestasi, baik kepada korporasi, kepemimpinan dan pengemudi serta karyawanya.

Kita bukan perusahaan taksi biasa. Kita adalah armada taksi yang memberikan pelayanan ekstra. Profesionalisme kita menentukan perusahaan ini akan maju atau tidak. Kredibilitas baik yang kita bangun hari ini adalah masa depan kita.

Petuah dari (almarhumah) Ibu Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, pendiri Blue Bird, itu merupakan napas hidup perusahaan taksi terkemuka di Indonesia tersebut.

Pelajaran hidup Bu Djoko, demikian ia biasa dipanggil, dan keluarga dalam membangun Blue Bird itu diuntai dalam kalimat dan bab demi bab pada buku Sang Burung Biru: Perjalanan Inspiratif Blue Bird Group setebal 340 halaman yang ditulis Alberthiene Endah dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama (2012).

"Buku ini dibuat untuk berbagi cerita inspirarsi yang membangun semangat generasi muda," ujar Noni Purnomo, Vice President Business Development Blue Bird Group.

sang burung biru, menjadi lambang perjuangan usaha keras seorang ibu untuk menghidupi anak-anaknya dan mendirikan cikal bakal perusahaan taksi besar di Indonesia (Kompas.com)
"Sangatlah berarti bagi kami sebagai salah satu perusahaan anak bangsa untuk  bisa membagikan cerita inspirasi yang bisa membangun semangat generasi muda Indonesia untuk berkarya dan lebih maju di kehidupan ini," ungkap Noni.

Menurut Noni, peluncuran buku “Sang Burung Biru” bertujuan untuk memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk tetap kreatif, sabar dan tidak menyerah dalam menghadapi kehidupan. Dijelaskannya ide penulisan buku ini datang dari kehidupan modern yang penuh dengan kompetisi.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama pun mengakui, ”Blue Bird merupakan satu contoh usaha yang menjadi besar karena keluhuran karakter yang mengalir melalui setiap detail layanannya.”

Salah satu contoh soal keluhuran karakter, apabila barang penumpang tertinggal, seorang sopir taksi Blue Bird pasti akan mengembalikan barang bawaan Anda yang tertinggal sekalipun malam telah larut! 

Sebagai pionir dari berdirinya bisnis taxi Blue Bird Group, "Ayo generasi muda belajar dari semangat dan kerja keras Mutiara Djokosoetono," imbuh Alberthiene penuh semangat.


Sumber : Pelita - Kompas & Ind-Raya


Kamis, 24 November 2011

Kisah Seorang Yahudi Mencari Taksi

Ilustrasi

Di sebuah surat kabar nasional saya pernah membaca sebuah kisah yang bagi saya menarik dan bisa dijadikan contoh bagus bagi perkembangan ekonomi Indonesia khususnya perkembangan dunia Usaha dan Blanja di Indonesia. Sehingga dalam catatan ini, layak bila saya critakan kembali kepada anda semua.

Suatu ketika ada seorang yahudi yang berdiri di pinggiran sebuah kota di Amerika. Tangannya melambai-lambai berusaha memanggil taksi agar mau berhenti.

Setiap kali dia memanggil taksi, selalu saja ada taksi yang berhenti dihadapan dia.Setelah taksi berhenti  si yahudi berbicara kepada supir taksi, dan beberapa siaat kemudian taksi itu pergi tanpa si Yahudi ikut di dalam taksi tersebut.

Setelah taksi pergi, kembali si yahudi melambaikan tangan untuk kembali memanggil taksi untuk berhenti. Dan kesekian kalinya ada taksi yang berhenti. Lalu prosesnya sama, si yahudi berbicara kepada supir taksi lalu taksi pun kembali pergi tanpa si yahudi. Begitu terus hingga beberapa kali.

Melihat hal itu, tersirat sebuah keanehan. Untuk apa si yahudi memanggil taksi bila dia tidak pergi bersama taksi yang dipanggilnya. Seolah dia hanya buang-buang waktu berdiri di pingggir jalan untuk memanggil taksi. Seperti tidak ada hal lain yang lebih penting di dunia ini selain memanggil taksi.

Selidik punya selidik, ternyata si yahudi ketika memanggil taksi memang dia membutuhkan taksi karena ingin pergi ke suatu tempat. Tapi dia selalu bertanya kepada setiap sopir taksi yang berhenti didepannya sebelum si yahudi naik kedalam taksi.Pertanyaannya ke pada sopir taksi : "apakah pemilik Taksi ini adalah seorang Yahudi??"

Begitu seterusnya. Setiap jawaban sopir taksi adalah "tidak" maka dia rela membuang waktunya untuk mencari taksi lain yang pemiliknya adalah yahudi.

Bayangkan, dari kejadian ini terlihat jelas bagaimana Bangsa Yahudi membangun perekonomiannya. Mereka begitu fanatik kepada bangsa mereka, saudara sebangsa mereka, sampai produk yang dihasilkan oleh mereka.

Disinilah letak kekuatan bangsa Yahudi sehingga mereka mampu menguasai setiap lini perekonomian dunia.

Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia? ataukah bagaimana dengan diri kita?

Apakah kita mau melakukan hal yang sama seperti si yahudi. Rela membuang energinya demi membeli produk yang dihasilkan oleh anak Bangsanya?

Bayangkan bila kita semua memiliki kefanatikan yang sama terhadap produk dalam negeri sendiri. Kita hanya mau membeli produk yang dihasilkan oleh tangan-tangan bangsa Indonesia sendiri bukan yang lain.

Saya yakin ekonomi Indonesia akan lebih cepat pulih dan permasalahan perekonomian bangsa semakin cepat terselesaikan.

Lapangan pekerjaan semakin terbuka karena para pengusaha Lokal bergairah menghasilkan produk-produk berkualitas yang mampu dijual dan MAU dibeli oleh bangsa sendiri. Karena lapangan pekerjaan terbuka, maka pengangguran semakin sedikit sehingga tidak perlu jauh-jauh mencari nafkah sebagai TKI di negeri orang. Dan semakin sedikit pengangguran maka semakin hilangnya kejahatan.

Jepang dan Cina sudah membuktikan, kecintaan kepada produk sendiri mampu membangkitkan ekonomi mereka. Bahkan di Jepang harga Produk buatan negeri sendiri jauh lebih mahal tetapi masyarakat Jepang tetap mau membeli produk negeri sendiri.

Hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil, pasti bisa bila kita mau memulai dari sekarang. Sehingga tidak berlebihan bila saat ini setiap mau belanja anda bertanya "apakah ini produk Indonesia??"



Sumber :  ja-jp




Rabu, 09 November 2011

Pengemudi Taksi Itu Mengajari Saya Cara Melayani Konsumen


Saya punya kenalan, seorang sopir taksi di Semarang. Dia sudah menjalani profesi sebagai sopir taksi itu selama lebih dari 30 tahun. Sekarang dia punya rumah, juga punya mobil, yang dibelinya dengan penghasilan sebagai sopir taksi. Artinya, dia hidup cukup layak dari profesinya itu.

Perkenalan kami terjadi secara tidak sengaja ketika saya kebetulan sedang tugas lapangan di daerah Semarang dan sekitarnya. Saya naik taksi, dan kebetulan Pak Zaenal –nama beliau– yang mengemudikan taksi itu. Orangnya sudah cukup tua, mungkin sekitar 60 tahun. Bawa mobilnya enak, halus, tidak gradakan seperti kebanyakan pengemudi usia muda. Entah karena memang begitu gaya mengemudinya, atau karena sudah tua, saya kurang tahu.

Tapi bukan itu yang paling mengesankan saya. Di taksi itu, begitu masuk ke taksi di jok belakang, kita akan segera menemukan air mineral dalam gelas, makanan kecil, permen, dan minyak kayu putih dalam botol kecil. Semua diletakkan di semacam keranjang yang ada di bagian belakang kursi pengemudi.

“Wah, banyak makanan nih, Pak..” kata saya.
“Oh, iya, silakan ambil kalau mau,” jawab pengemudi taksi, yang akhirnya saya tahu namanya adalah (Pak) Zaenal.

“Gratis ya, Pak?” tanya saya, setengah bercanda, karena sebenarnya saya tidak akan keberatan kalau memang harus membayar.

“Oh, betul, gratis..silakan ambil sesukanya,” kata Pak Zaenal sambil terus mengendarai taksinya ke tujuan.

Ternyata Pak Zaenal dengan sengaja menyediakan semua itu untuk orang yang naik taksinya. Sekedar untuk menghilangkan rasa haus, atau melawan kebosanan di tengah perjalanan, atau minyak kayu putih untuk yang sedang kurang enak badan. Hal-hal kecil, memang, tapi saya merasa sangat nyaman dengan itu semua.

“Ini disediakan oleh perusahaan, atau bapak sendiri yang membelinya?” tanya saya agak menyelidik.
“Pakai uang saya sendiri,” jawab Pak Zaenal.

“Lho, bapak gak rugi? Setoran gak terganggu, Pak,” tanya saya lagi.

“Ya tidak, wong itu kan tidak seberapa. Saya belinya juga bukan dari uang setoran, tapi pakai uang tips kalau kebetulan ada yang memberi,” Pak Zaenal menjelaskan. Beliau kemudian bercerita, bahwa hal itu sudah dilakukannya nyaris selama lebih 2/3 kariernya yang panjang sebagai pengemudi taksi, dan itu artinya sudah 20 tahun lebih.

Tak terasa kami sudah sampai di tujuan. Sebelum saya turun dari taksi, Pak Zaenal memberikan kartu nama sederhana, hanya bertuliskan nama dan nomor HP, kalau-kalau suatu saat saya memerlukan jasa beliau lagi.

Saya tidak tahu, berapa banyak sopir taksi yang menggunakan ‘pendekatan’ seperti Pak Zaenal itu. Yang pasti saya sangat terkesan dengan upaya beliau memberikan pelayanan kepada konsumennya. Dan yang pasti pula, sekitar 20 tahun di Jakarta (dan sekitarnya) saya belum pernah bertemu dengan pengemudi taksi yang begitu ‘bersemangat’ melayani konsumen seperti Pak Zaenal di Semarang itu.

Berbekal kartu nama sederhana yang diberikannya, akhirnya saya menjadikan Pak Zaenal langganan taksi saya kalau sedang di Semarang dan sekitarnya. Saya pun dengan senang hari merekomendasikan taksi Pak Zaenal itu ke teman-teman saya yang membutuhkannya.

Juga suatu saat, ketika ibu saya yang sudah sepuh mesti melanjutkan perjalanan dari Jakarta (setelah menempuh perjalanan dengan KA Jakarta-Semarang) ke kota tempat tinggalnya (sekitar 50 km dari Semarang), Pak Zenal sangat membantu. Saya tinggal menelpon beliau, minta supaya menjemput ibu saya di Stasiun Tawang dan mengantarnya sampai ke rumah.  Sangat membantu, karena pada dasarnya ibu saya penakut, dan belum terbiasa naik taksi. Saat ada kesempatan berkunjung ke Semarang, anak-anak saya pun sangat senang naik taksi Pak Zenal itu.

Mungkin terlihat sederhana, tapi terus terang, saya belajar banyak dari Pak Zaenal tentang cara melayani konsumen. Memberikan hal-hal kecil (air mineral, snack, permen, minyak kayu putih), juga kartu nama sederhana, yang bukan hanya membuat konsumen terkesan dengan pelayanannya, tapi juga bisa dengan mudah menghubungi kalau ada keperluan.

Juga, secara tidak langsung, Pak Zaenal memberikan ‘pesan’ kepada saya, bahwa kita bisa hidup layak dari pekerjaan/profesi apa pun, asalkan kita benar-benar menekuni profesi itu, bekerja dengan semangat dan serius, serta tidak melupakan hal-hal ‘kecil’..



Sumber : Kompas

Selasa, 04 Oktober 2011

Belajar Berantas Korupsi dari Sopir Taksi


Obrolan sopir taksi, sebagaimana warga biasa umumnya sering diabaikan. Mereka bukan dosen, bukan doktor, apalagi profesor yang kata-katanya berisi, bernas dan penuh ilmu. Obrolan sopir taksi dengan ratusan penumpangnya setiap hari hanyalah "ocehan" ringan khas warga biasa. Tetapi siapa sangka, seorang Kafi Kurnia, konsultan dan kolomnis, banyak menggali pengalaman hidup dari sopir taksi termasuk pendapat mereka bagaimana seharusnya pemerintah menangani para koruptor.

Di media sosial Kompasiana Kafi Kurnia yang dalam setiap presentasinya menggunakan gaya dan bertutur cara Betawi berterus-terang, ia sempat membeli sebuah buku kecil yang berjudul "Taxi Driver Wisdom" saat berada di New York menjelang krisis ekonomi 1998. Buku kecil itu menurutnya berisiuneg-uneg para supir taksi di New York yang dikumpulkan Risa Mickenberg.

"Lucu, menggelitik dan kalau direnungkan terasa kebenaran yang polos terkadang nyelekit. Barangkali saja Tuhan menakdirkan sopir taksi memiliki pemikiran yang sangat berbeda, yang membuat mereka bijaksana dengan cara yang sangat unik. Terkadang kita suka bertemu dengan sopir taksi  yang bawel dan bicara ngalor ngidul nggak keruan. Sering terasa tidak nyaman. Namun setelah membaca 'Taxi Driver Wisdom', saya jadi lebih memberikan perhatian," tulis Kafi.

Kafi mengungkapkan pertemuannya dengan seorang sopir taksi bernama Koeswanto, saat perjalanan dari hotel menuju Bandara di Surabaya, beberapa waktu lalu. Dalam perjalanan ke Bandara, sekelompok anak muda memadati bagian jalan mengakibatkan kemacetan. Sopir taksi lalu menggerutu sampai kemudian pada kisah yang menurut Kafi menarik.

Diceritakan, salah satu tetangga sopir taksi itu anaknya masuk rumah sakit karena demam berdarah. Tidak ada biaya sehingga anak tetangga sopir taksi itu tidak bisa ditebus. "Mulanya saya tersenyum saja. Ini cerita biasa di Republik ini. Kisahnya banyak kita temukan dikoran setiap hari. Dan sayapun bisa menebak kelanjutan cerita, pasti tetangganya akan menjadi maling dan nyolong sesuatu," tulis Kafi.

Dugaan Kafi benar, tetangga sopir taksi itu lalu nyolong dan menjadi maling, membawa kabur motor salah satu tokoh terpandang di kampung. Sial, ia tertangkap basah oleh massa dan sang tetangga itu dihajar sampai babak belur. Ironisnya, kata Kafi mengutip cerita sopir taksi, sang tetangga harus masuk rumah sakit dan harus dipenjara, sementara anaknya  tidak tertebus. Akhirnya, terpaksa para tetangga urunan dan menebus sang anak agar bisa keluar dari rumah sakit.

Secara menarik, tulis Kafi lagi, sopir taksi itu mengurai cerita tadi. Katanya, orang kecil seringkali dicap sebagai tidak berpendidikan, tidak tahu hukum dan seringkali main hakim sendiri. Orang kecil di kampung seringkali frustasi karena mereka merasa jarang sekali mendapat perlindungan hukum. Kafi menceritakan, sopir taksi itu bertanya kapan terakhir kali ia melihat polisi membantu orang biasa menyeberang jalan. "Saya jadi tersenyum mendengarnya," aku Kafi.

Lalu sopir taksi itu mencontohkan bagaimana bedanya orang penting kalau berpergian. Mobil orang penting cuma satu, tetapi yang mengawal bisa selusin dan galaknya bukan main. Semua mulut jalan ditutup. Akibatnya bikin macet dimana-mana.

"Pak Koes tertawa terkekeh-kekeh. Ia bilang kenapa sih para orang penting itu selalu terburu-buru? Kenapa mereka nggak bisa pelan sedikit dan ikut bersama rakyat menikmati kemacetan kota? Secara sinis pak Koes mengatakan bahwa mungkin itulah sebabnya jalanan tetap macet karena orang penting tidak pernah merasakan macet dan tidak pernah tahu masalah macet. Inilah pencerahan pak Koes yang membuat saya terpingkal-pingkal. Iseng saya tanya apakah pak Koes mau jadi Presiden biar dikawal kemana-mana? Kini gantian Pak Koes yang tertawa. Ia tidak menjawab," papar Kafi.

Pak Koes, kata Kafi, melanjutkan. Ia bercerita bahwa seringkali maling digebuki ramai-ramai, bukan karena main hakim sendiri, tetapi masyarakat seringkali merasa perlu bahwa maling itu diberi pelajaran agar kapok tidak lagi mau mencuri dimasa depan, serta menjadi peringatan agar maling-maling lainnya tidak berani mencuri di kampung mereka. Sopir taksi itu lalu menggugat situasi korupsi yang sekarang beredar. Ia secara kritis mengatakan bahwa zaman sekarang yang korupsi semakin banyak. "Lalu saya ceritakan bahwa sekarang Indonesia sedang gencar memberantas korupsi, makanya ada KPK segala," kata Kafi.

Di luar dugaan, lanjut Kafi, sopir taksi yang dipanggilnya Pak Koes itu tidak setuju dengan pendapatnya. Katanya, koruptor harus dibikin kapok persis maling motor tadi, kalau perlu digebukin rame-rame dan dihukum mati. "Saya terkesima. Barangkali Pak Koes benar adanya. Sistim hukuman para koruptor di Republik ini terlalu ringan dan tidak membuat jera para pelakunya," tulis Kafi.

Apa kiat dan pendapat sopir taksi mengenai bagaimana seharusnya pemerintah Indonesia menangani para koruptor yang tidak pernah tahu malu dan tak pernah jera ini? Ternyata sopir taksi sebagai warga biasa ini punya pendapat yang masuk akal, bahkan brilian, setidak-tidaknya demikianlah menurut penilaian Kafi Kurnia.



Sumber : Kompas


Kamis, 28 Juli 2011

Belajar Hidup Dari Mengemudi


Marilah kita bercermin dan belajar hidup dari cara mengemudi. Ibarat pengemudi adalah pemimpin dan penumpang adalah rakyat. Maka bisa dibayangkan bahwa seorang pengemudi harus bisa membawa penumpangnya selamat sampai ke tujuan dengan perasaan aman dan nyaman.

Sebenarnya kondisi mental seseorang juga bisa dilihat dari bagaimana dia pada saat mengemudi. Orang yang sedang emosi akan kelihatan sekali pada saat mengemudi cenderung "ugal-ugalan" dan penumpangpun merasa kurang nyaman dan aman bersamanya.

Mengawali mengemudi
Sebenarnya, orang hidup ini sama saja dengan orang mengemudikan kendaraan. Untuk mulai menjalankan kendaraan, harus dimulai dari persneling yang paling rendah, yang paling berat. Begitu pun dengan hidup, untuk memulainya kita selalu berjuang dari bawah. Tidak ada seorang pun yang bisa memulai sesuatu langsung di atas, semuanya harus dipelajari dan diawali dulu. 

Jika mulai menjalankan kendaraan pada persneling dua, kendaraan akan tersengal-sengal dan kemudian mesinnya akan mati. Jika tetap ingin menjalankannya pada persneling dua, kita harus menekan pedal gas agak dalam. Artinya dibutuhkan usaha lebih untuk memulainya.

Menaikkan persneling
Kecepatan bertambah secara bertahap dan harus diikuti dengan perpindahan persneling secara bertahap juga. Dalam hidup, jika ingin maju (analoginya, ingin menambah kecepatan), ingin kehidupan yang lebih baik, kita harus meningkatkan kemampuan. 

Jika kita tidak mau mengganti persneling, tidak mau meningkatkan kemampuan, maka seberapa kerasnya kita berusaha, hasilnya tidak akan menyamai mereka yang meningkatkan kemampuannya.

Mengurangi kecepatan, bahkan berhenti
Untuk menambah kecepatan, perpindahan persneling selalu bertahap. Namun untuk mengurangi kecepatan, perpindahan persneling bisa saja melompat dari empat ke dua atau tiga ke satu dengan bantuan rem. Pada saat-saat tertentu, kita dituntut untuk mampu mengendalikan diri yang tidak ada tahapannya, untuk keselamatan kita sendiri dan keselamatan orang lain. 

Contohnya dalam pekerjaan dan keluarga. Ya, kita benar dan tidak salah sedikit pun, namun pertimbangkan juga keselamatan diri kita dan apakah hal tersebut merugikan orang lain. Kadang kita dituntut untuk merelakan apa yang sudah kita usahakan dengan keras, dan memulai lagi semuanya dari awal demi kebaikan bersama.

Mengadu kecepatan dengan pengendara lain
Di jalan raya, ada banyak pengendara-pengendara lain dengan kendaraannya masing-masing. Kadang kala pengendara lain menghambat jalan kita, di kesempatan lain ada pengendara yang merongrong ingin mendahului sehingga membuat was-was. Jika kita terus melihat mobil-mobil lain baik yang di belakang maupun yang berlawanan arah, kita akan bingung dan bisa-bisa malah celaka. 

Tetaplah fokus ke depan, pada tujuan kita, pada peluang-peluang untuk bisa mendahului pengendara lain dan waspada terhadap hal-hal yang bisa membuat perjalanan kita gagal. Tengoklah kiri dan kanan hanya pada saat akan mengambil tindakan. Mendahului mobil lain, berbelok, berhenti, dan sebagainya.. Hal ini untuk memastikan bahwa tindakan kita tidak mencelakai orang lain dan diri sendiri, bukan untuk mengamati tingkah laku pengendara lain atau mungkin jenis mobil kendaraan lain.

Begitu pula dalam hidup, kita berlomba-lomba dengan orang lain untuk mencapai tujuan. Kadang ada yang tujuannya bergesekan dengan tujuan kita, ada yang membahayakan bahkan ada pula yang tujuannya adalah menggagalkan tujuan kita. Sama dengan mengendarai mobil, jika kita terus menerus memperhatikan tingkah orang lain, tidak fokus terhadap tujuan dan apa yang ada di depan, bisa dipastikan kita gagal mencapai tujuan. 

Memperhatikan apa yang dilakukan orang lain itu penting sebagai pembelajaran, sebagai pertimbangan apakah keputusan kita tidak merugikan orang lain. Namun perlu diingat untuk tetap melihat ke depan dan fokus pada tujuan kita. Pencapaian hidup berada di tangan kita, bukan di tangan orang lain. Maka kemudikanlah hidup dengan baik, sebagaimana mengemudikan kendaraan Anda dengan baik agar Anda dan penumpang nyaman di perjalanan dan berhasil sampai di tujuan.





Sumber : metrotvnews.com
 

Selasa, 26 Juli 2011

Sopir Taksi

Ilustrasi
 
Suatu siang yang udaranya sangat panas, karena sinar matahari begitu terik. Saya menumpang sebuah taxi dan menuju ke sebuah plaza di Jakara. Sopir taksi ini mengendarai taksinya dengan benar dan melaju pada jalur yang benar, tetapi tiba-tiba sebuah mobil box berwarna merah melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan taksi kami. Supir taksi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil box tersebut mengeluarkan kepalanya dan marah-marah dengan muka yang seram ke arah kami. Supir taksi tetap tenang dan hanya tersenyum serta melambai tangan kepada sopir mobil box tersebut.  Saya sangat heran dengan sikapnya yang tenang dan bersahabat itu.

Karena heran, lalu Saya bertanya, " Mengapa anda santai dan tenang-tenang saja ? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit! ".
 
dan jawaban sang sopir ini enteng saja :  Ia mengatakan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling kota memungut dan membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kejengkelan, dan kekecewaan, yang di sebabkan oleh beban hidup yang berat. 
 
Bila muatannya sudah begitu penuh sesak, mereka tidak sanggup menampung lagi, dan akhirnya mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, atau membutuhkan tempat untuk melampiaskan kemarahannya, kekecewaannya kepada orang lain, terutama orang yang sedang berada di sekelilingnya, termasuk kepada anda jika anda begitu dekat jaraknya dengan dia. 
 
Sedikit masalah yang tidak penting sudah cukup bagi mereka untuk melampiaskan emosinya yang sedang mendidih itu. Sebaiknya, jangan ambil hati akan kejadian itu, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup anda. Bila kita memberikan respon, mereka semakin menjadi-jadi, mereka semakin mendapatkan tempat untuk menyalurkan emosi-emosi kemarahan dan kejengkelan itu. Jadi untuk apa di layani.

Demikian juga, sebaiknya tidak mengambil sampah mereka lalu melemparkan lagi kepada orang lain yang kita temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Karena dapat menimbulkan masalah baru dalam hidup kita, yang membuat hidup kita tidak nyaman.
 
Pada dasarnya, orang yang bahagia, adalah orang yang tidak membiarkan " sampah- sampah itu " mengambil alih atau membajak hari-hari kita dan merusak suasana hati kita. Kita perlu menjaga ketenangan dan kedamaian kita sendiri, karena inilah yang jauh lebih penting.

Pembaca yang budiman, menjaga ketenangan dan kedamaian hati kita sendiri adalah suatu hal yang esensial, jangan membiarkan suasana hati kita di bajak oleh rasa frustrasi, kemarahan, kejengkelan, kekecewaan dan ketidak-puasan, karena itu semua akan menjadi sumber masalah dalam hidup kita. Jika kita mampu menghadirkan ketenangan dan kedamaian ini, pikiran dan hati kita semakin jernih. 
 
Dengan semakin jernihnya hati dan pikiran kita, kita akan lebih mampu untuk merespons beban-beban hidup yang berat ini. di dalam hidup ini selalu ada masalah, entah besar atau kecil, semuanya datang silih berganti, jika kita memiliki kemampuan yang memadai dalam menghadapi masalah ini, tentu kita akan menemukan kebebasan dan kebahagiaan.
 
Jadi bebaskan diri anda dari semua belenggu yang membebani hidup anda, jangan menimbun sampah – rasa frustrasi, kejengkelan, kekecewaan dan kemarahan -  di dalam batin anda, lepaskan dan bersihkan, agar anda selalu damai.
 
 
 
 
 
Sumber : soegiantohartono.blogspot.com 
 

Jumat, 22 Juli 2011

Driver Taxi Itu Trainerku


Senin kemarin saya sengaja “mengistirahatkan” driver yang selama ini setia menemani saya. Setelah jadwal training yang begitu padat saya khawatir ia jatuh sakit. Untuk memulihkan stamina, ia saya bebaskan mengantar saya. Hari itu, saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird.

Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan. Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona.  Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?” Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.” “Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya. Diapun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.”
“Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari? Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”

Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.”  Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari. Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?” Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.”

“Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor.  Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.” Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca. Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya.







Sumber : www.jamilazzaini.com

Kisah Dedikasi Di Tengah Himpitan


Ini cerita yang dialami pacar gw, bukan gw… tapi menyentuh gw banget, makanya gw merasa harus menshare ini.

Jadi ceritanya siang ini pacar gw bersama koleganya mengambil taksi Blue Bird di jalan TB Simatupang. Sang pengemudi berusia kira-kira 40 an. Sepanjang perjalanan si pengemudi bernama pak Bambang S. ini terkesan ramah. Dia sempat mengeluhkan soal ormas-ormas preman yang kerjanya hanya memalak orang kecil seperti dia.

Tiba-tiba di tengah jalan, handphonenya berbunyi. Pak Bambang mengangkat dan segera berujar “Nanti ya, bapak lagi bawa penumpang”. Tetapi sebelum sempat menutup pembicaraan, tampak bahwa si penelepon punya masalah serius, dan tiba-tiba suara pak Bambang berubah:

“Kenapa?? Sudah, bawa dia ke rumah sakit! Kamu jangan panik, bawa dia ke rumah sakit terdekat!”
Pacar gw pun bingung, saling liat2an dengan koleganya, dan menanyakan kalau pak Bambang ada masalah dan perlu pulang. Pak Bambang diam saja, terus menyetir dengan tenang walaupun pelan-pelan melambat sambil menyalakan lampu sinyal ke kiri. Dan pacar gw melihat dari kaca spion mata pak Bambang memerah dan berkaca-kaca.

Kemudian pak Bambang merapat ke pinggir jalan dan berkata, “Maaf ya bu, anak saya anfal, saya tidak bisa melanjutkan perjalanan”. Pacar gw pun berkata tidak apa-apa karena bisa melanjutkan dengan taksi lain.

Pak Bambang berkata, “Bu, jangan di sini, saya akan carikan tempat yang ibu gampang cari taksi”
Akhirnya taksi melaju lagi, dan akhirnya berhenti di showroom Nissan di arteri Pondok Indah. Pak Bambang kemudian turun dari taksi, dan segera oleh 2 penumpang perempuannya pak Bambang didesak agar segera pulang, sambil menyodorkan pembayaran.

Pak Bambang menolak, sambil berkata, “Jangan bu, soalnya saya tidak bisa mengantar sampai di tempat. Biar saya carikan taksi dulu”

Pacar gw dan temannya bersikeras untuk membayar dan akhirnya diterima Pak Bambang. Sambil menunggu taksi pengganti, pacar gw menanyakan sakit apa yang diderita anak Pak Bambang. Beliau menjawab “Kanker Limpa”, dan ternyata sudah kronis, diderita sejak kecil. Dan sekarang anak ini baru berusia 9 tahun. Ternyata anak ini baru saja pulang dari RSCM 2 hari yang lalu setelah perawatan, di mana dokter juga sudah menyerah.
Akhirnya Pak Bambang mendapatkan taksi baru, dan Pak Bambang menunggui sampai para penumpangnya masuk ke taksi baru dan pergi.

Yang menyentuh gw dari kejadian ini bukanlah kisah sedih anak Pak Bambang yang sakit kanker. Kisah ini tentunya sedih, tanpa keraguan, tetapi yang lebih menyentuh gua: dalam keadaan sesulit itu, ditambah keadaan genting anaknya, pak Bambang masih menjaga dedikasinya sebagai pengemudi. Bahkan memastikan penumpangnya mendapatkan pengganti taksi terlebih dahulu.

Dan gw jadi malu dengernya….  karena profesionalitas dan dedikasi gak ada apa-apanya dibanding pak Bambang :( 

Dan maaf, gw juga jadi kepikiran para pemimpin negeri ini. Kalau negara ini ibarat “taksi”, maka ketika para ”penumpang” (baca: rakyat) sudah menderita, dirampok, dianiaya, maka “pengemudinya” santai saja tidak bertindak. Tapi ketika pengemudinya yang mendapat berita negatif sedikit atau dikritik, langsung cepat mencak-mencaknya….

Negeri ini, dan kita semua, perlu lebih banyak meneladani pak Bambang :( 




Sumber : http://manampiring17.wordpress.com

Game Online

Taxi Truck

Play free Games - a game from Driving | Racing Games