Tampilkan postingan dengan label Metro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metro. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2013

BBM naik, pengemudi taksi akan disubsidi



Pengusaha taksi Blue Bird akan memberikan subsidi bagi para pengemudi guna mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Kami siap mengeluarkan subsidi untuk pengemudi jika nanti kenaikan BBM benar-benar diberlakukan," kata Vice President Business Development Blue Bird Group, Noni Purnomo, di Jakarta, Selasa.

Meski tidak menyebutkan jumlah subsidi yang akan disalurkan, Noni menyatakan Blue Bird Group akan memperhatikan kesejahteraan para pengemudi.

"Kami akan fokus memikirkan cara agar pengemudi tidak terbebani dengan adanya kenaikan BBM ini," katanya.

Terkait dengan penerapan penyesuaian tarif, Blue Bird Group masih menunggu keputusan pemerintah.

"Mengenai kenaikan tarif, sepenuhnya akan kami serahkan pada Organda, kami ikut saja," ujarnya.

Kenaikan harga BBM telah ditetapkan dalam rapat paripurna DPR Senin malam. Harga BBM ditetapkan menjadi Rp6.500 untuk premium dan Rp5.500 untuk solar.


Sumber : Antara

Rabu, 12 Juni 2013

Bhakti Sosil Blue Bird Di Bandung


Blue Bird Cabang Bandung, mengadakan kegiatan bakti sosial dalam rangka perayaan Ulang Tahun Blue Bird Ke – 41. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain Pembarian Beasiswa dan acara Pengemudi Teladan  di tanggal 8 juni, dan pawai Seni Singa Depok serta khitanan bersama  tanggal 9 juni 2013.

Selain pemberian bantuan beasiswa, Blue Bird Bandung mengadakan khitanan bersama yang diikuti oleh 30 anak-anak pengemudi dan warga lingkungan sekitar pool di jalan Terusan Buah Batu No. 194, Bandung Kidul. Acara ini dikemas dengan Pawai seni Budaya Singa Depok dan Kendang Pencak  yang juga diikuti oleh para peserta khitan, sebagai hiburan bagi anak-anak serta masyarakat sekitar pool.



Sumber : http://www.bluebirdgroup.com

Selasa, 31 Juli 2012

Supir Taksi Lokal Ramai-Ramai Pindah Kerja ke Blue Bird

Nama besar dan intensif serta tunjangan yang 'lumayan' membuat supir taksi dari armada taksi lokal bermigrasi ke perusahaan taksi raksasa Jakarta itu

Terkait adanya isu migrasi besar-besaran para supir taksi perusahaan taksi lokal ke Blue Bird yang akan beroperasi di Pekanbaru, Kepala Cabang Pusaka Prima Transport, Sayang suprayogi Selasa (31/7) mengakuinya. Namun demikian, semua tetap harus dan wajib menjalani semua test.

Namun Kacab anak perusahaan Blue Bird yang menangani operasional awal armada taksi Blue Bird di Pekanbaru ini bungkam ketika ditanya jumlah pasti supir yang bermigrasi ke perusahaannya. Yang pasti menurutnya, selain supir taksi armada lokal, juga ada supir perusahaan kargo, supir pribadi dan lainnya.

"Semua wajib melalui test. Namun yang memiliki pengalaman terutama pengalaman sebagai supir taksi memiliki nilai lebih. Hingga kini sudah ada 100-an pelamar yang didominasi oleh supir," terangnya.

Menurutnya, selain tidak buta warna dan rabun serta bebas penyakit berat, supir harus tidak memiliki tato dan tindik. Untuk itu salah satu testnya adalah medical test dan fisic test. Supir laki-laki akan diperiksa seluruh tubuhnya untuk mengeteksi tidak adanya tato dan tindik.

Disinggung supir yang lolos, Yogi mengatakan bahwa sejauh ini sudah ada 30 persen pelamar yang sudah lolos secara administratif dan akan menjalani test lanjutan. Setelah semua test lulus, maka calon driver taksi blue bird akan dilakukan training mengenai pelayanan kepada penumpang.



Sumber : Riauterkini

Persaingan Ketat, Ribuan Sopir Taksi Mogok Beroperasi



Sekitar 2.000 unit taksi yang beroperasi di Kota Batam Kepulauan Riau mogok dan sopirnya berunjuk rasa di halaman Kantor Wali Kota Batam, Selasa.

Mobil taksi parkir sepanjang sekitar tujuh km jalan di sekitar Kantor Wali Kota. Jalanan diblokir, sehingga tidak satu pun kendaraan selain taksi bisa masuk.

Koordinator taksi Batam Centre, Bujang Piliang dalam orasinya mengatakan para sopir menuntut pemerintah kota menutup izin operator Blue Bird. "Dua saja tuntutan kami, tutup izin blue bird dan turunkan Zulhendri dari Kepala Dinas Perhubungan," kata dia.

Jika tuntutannya tidak dipenuhi, maka para supir taksi mengancam tidak akan membubarkan diri dan tetap mogok.

Koordinator taksi Bandara Hang Nadim Afrizal mengatakan tidak ada satu pun taksi yang beroperasi. Ia menagih janji Wakil Wali Kota yang pernah berjanji tidak akan menambah kuota taksi di Batam. "Dulu kita yang bersusah payah mengoperasikan taksi saat jalan di Batam banyak tanah. Setelah maju, kami digusur," kata dia.

Menurut dia, lebih baik meremajakan taksi yang ada ketimbang memasukan operator baru. Sekretaris Forum Komunikasi Pengemudi Taksi Pelabuhan Barelang, Satria menduga ada permainan antara Wali Kota dengan operator taksi lain.

Kapolresta Barelang Kombes Pol Karyoto mengatakan pada dasarnya sepakat dengan tuntutan pengemudi taksi. "Kalau memang ada kekurangan taksi di Batam, kenapa tidak memenuhi dari dalam, jangan dari luar," kata dia saat menemui pengunjuk rasa.

Ia mengatakan hal yang perlu dilaksanakan segera adalah menunda perizinan Blue Bird atau mencabut izin. "Kami memahami keinginan dan mendukung 100 persen," kata Kapolresta.

Sementara itu, kendaraan para pengemudi taksi memenuhi ruas halaman Masjid Raya Batam Centre, Bank Indonesia, DPRD Kota Batam, Dataran Engku Putri dan Kejaksaan Negeri.


Sumber : Republika

Kadishub Batam : Blue Bird Sudah Sangat Matang Dalam Pengelolaan Taksi


Kehadiran Blue Bird di Kota Batam ternyata didukung penuh oleh Kepala Dinas Perhubungan Zulhendri. Ia berharap dengan kehadiran Blue Bird di Batam pengelola taksi lainnya bisa berbenah dan bersaing untuk lebih baik. Blue Bird Sendiri diakui di Indonesia karena sudah memenuhi standar nasional bahkan internasional pengoperasian taksi.

Ia mengatakan Blue Bird sudah sangat matang dalam pengelolaan taksi. Dikatakan memenuhi standar nasional dan internasional, karena Blue Bird tertib administrasi dan managemen, memiliki pool, memiliki bengkel sendiri, ada asuransi tenaga kerjanya, dan sebagainya.

Sedangkan  standar operasional lainnya yang dimiliki Blue Bird adalah tidak berjadwal, tidak ngetem di tengah jalan, memakai argo riel, bersifat door to door atau tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di tengah jalan, memiliki sistem komunikasi yang lengkap, memiliki call center dan ketentuan lainnya.

Berbeda dengan sejumlah pengelola taksi di Batam, menurut Zulhendri banyak pengelola taksi di Batam yang tidak memiliki ketentuan tersebut. “Banyak yang tidak pakai argo, bahkan jika perhatikan banyak juga taksi yang mengambil penumpang di tengah jalan, maka kita harapkan dengan kehadiran Blue Bird ini, teman-teman pengelola taksi lainnya bisa berbenah,”katanya.

Sementara itu dalam beroperasi, armada yang digunakan harus memiliki standar fisik di antaranya harus memiliki mahkota taksi, harus memiliki cat berwarna menandakan identitas taksi, lambang koperasi di sebelah kiri dan kanan pintu depan, memiliki nomor taksi di dekat pintu, dan sopirnya harus berseragam.

Yang paling penting adalah semua sopir Blue Bird memiliki Kartu Identitas Pengemudi yang diletakkan di dasboard bagian depan. “Seharusnya semua sopir harus memiliki kartu identitas ini. Selain itu nomor armada merupakan suatu keharusan. Ini untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada penumpang. Di mana jika terjadi tindakan kriminal di dalam taksi, penumpangnya bisa langsung mengenal sopirnya, atau nomor taksinya,”kata Zulhendri.

Zulhendri mengatakan semua syarat-syarat tersebut sudah dimiliki Blue Bird, jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak memberikan izin operasi terhadap taksi tersebut. Menurutnya ini juga sangat penting demi kenyamanan para penumpang yang ada di Batam terlebih Batam merupakan daerah Pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan manca negara, sehingga transportasi itu menjadi hal yang sangat penting.

“Saya yakin teman-teman pengelola taksi lainnya yang belum memenuhi semua standarisasi, dengan kehadiran Blue Bird akan membuat taksinya mampu bersaing denganBlue Bird. Makanya saya sangat mendukung Blue Bird di Batam,” kata Zulhendri. 


Sumber : Riaupos

Kamis, 26 Juli 2012

Dishub Kota Batam Cabut Izin 6 Operator Taksi


Dinas Perhubungan Kota Batam, Kepulauan Riau, selama tahun 2012 ini, telah mencabut izin enam operator taksi karena tidak memiliki kantor dan manajemen jelas.

"Mereka terpaksa kami cabut izinnya karena tidak memiliki manajemen dan kantor yang jelas sesuai dengan ketentuan," kata Kepala Dinas perhubungan (Dishub) Batam Zulhendri di Batam, Rabu (25/7).

Pencabutan izin tersbeut, kata Zukhendri, sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) Nomor 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Raya dengan Kendaraan Umum.

Selain itu, pencabutan izin dilakukan juga karena para supir taksi tersebut tidak memiliki kartu identitas pengemudi (KIP), yang disyaratkan bagi setiap perusahaan taksi.

Zulhendri mengatakan, penetapan kebutuhan kendaraan angkutan umum nontrayek, khususnya taksi, juga sudah tercantum dalam Surat Keputusan Wali Kota Batam No.220/2011.

"Untuk mendapatkan KIP harus bergabung menjadi anggota dulu. Syarat lainnya juga harus ada surat rekomendasi dari perusahaan. Tetapi yang enam itu (armada taksi, red) sudah tidak ada lagi manajemennya," kata dia.

Ia mengatakan, sebelum enam operator taksi tersebut dicabut, di Batam ada 26 operator taksi. Sebanyak 20 operator sisanya, saat ini memenuhi ketentuan pemerintah.

Zulhendri mengatakan, berdasarkan survei kebutuhan taksi di Batam mencapai 3.000 unit. Sedangkan saat ini yang ada baru sekitar 2.300 unit yang dikelola 20 operator.

Dalam waktu dekat, kata dia, akan diisi taksi Blue Bird yang semua izinnya sudah dikeluarkan Pemerintah Kota Batam.

"Untuk tahap awal akan ada 300 taksi yang beroperasi secara bertahap. Semua izin sudah keluar, tinggal menunggu armadanya saja," kata dia.

Ia mengatakan, awalnya ada lima perusahaan taksi yang ingin masuk ke Batam, namun setelah diseleksi hanya Blue Bird yang memenuhi syarat yang ditentukan Pemerintah Kota Batam.


Sumber : MetroNews

Senin, 23 Juli 2012

Pendatang di Pekanbaru Keluhkan Taksi Tanpa Argo


Pendatang mengeluhkan keberadaan sejumlah operator taksi di Kota Pekanbaru, Riau, tanpa mengunakan argo. Akibatnya, tarif yang berlaku hanya kesepakatan yang dinilai mahal dibandingkan dengan moda transportasi sejenis di Jakarta.

"Saya harus membayar ongkos taksi Rp 120.000 dari Umbansari, Kecamatan Rumbai, menuju Pasar Cik Puan di Jalan Tuangku Tambusai," kata Iwan (35) warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, ditemui di Pekanbaru, Sabtu (21/7/2012).

Iwan menyebutkan, ketika memberhentikan taksi di Umbansari yang kebetulan lewat tanpa penumpang, langsung minta untuk mengantarkan ke Pasar Cik Puan. Setelah tiba di lokasi tujuan, sopir meminta Rp 120.000.

Padahal, ketika baru naik taksi itu sopir menyebutkan tidak perlu mengunakan argo, dengan kesepakatan cukup membayar Rp 70.000 seperti dari Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, ke tempat lainnya.

Namun ketika sampai pada tujuan, katanya, sopir taksi enggan menerima Rp70.000 dan malahan meminta Rp 140.000 dengan alasan jaraknya dua kali lipat dari bila dibandingan dari bandara. Akhirnya pengurus salah satu cabang olahraga di DKI Jakarta itu memberikan sebesar Rp 120.000.

Masalah serupa juga disampaikan Rudi (38) penduduk Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, yang terpaksa membayar taksi di Pekanbaru sebesar Rp100.000, padahal hanya melayani rute jalan Ahmad Yani menuju Pelabuhan Sungai Duku.

Rudi tidak mau ribut menyangkut tarif taksi. Namun ia menyarankan sebaiknya operator menyediakan argo, agar tidak memberatkan penumpang.
   
Gubernur Riau, Rusli Zainal, menyatakan kecewa karena banyak tamu yang melaporkan tentang pelayanan taksi di Pekanbaru, yang tidak mengunakan argo sebagai petunjuk pembayaran.

Gubernur mengatakan bahwa pada Kualifikasi Piala Asia (AFC) U-22 banyak peserta yang kecewa, karena sopir taksi tidak mau memasang argo ketika membawa penumpang.

Menurut Rusli hal itu tentu menjadikan perhatian serius bahwa masalah transportasi terutama taksi harus mengunakan argo. "PON harus sukses. Tentu salah satunya bidang tranportasi bagi offisial atau tamu. Jika taksi tidak punya argo tentu tamu kecewa," katanya.


Sumber : Kompas

Senin, 16 Juli 2012

Taksi Porsche Berkeliaran di Senayan


Ramai dibicarakan di jejaring sosial Twitter, ada taksi Ferari jenis Modena 360 dan Porche jenis Boxster S berkeliaran di jalan raya Jakarta. Dari pantauan Kompas.com, sabtu siang  kedua mobil tersebut terlihat di kompleks olahraga Senayan, tepatnya di depan Gedung JCC, Jakarta, Sabtu (14/7/2012).

Keberadaan taksi yang tidak biasa tersebut turut menarik minat para pengunjung Senayan untuk sekadar ingin tahu atau berfoto bersama.

Guna menarik minat pengunjung Senayan sekaligus promosi, sesekali pengemudi kedua mobil itu melakukan test drive dengan kecepatan sekitar 100 km per jam di depan halaman parkir Gedung JCC yang saat itu belum ramai. Kemudian mereka memarkirkan taksi mewah tersebut.
Namun, saat ditanya lebih lanjut, kedua pengemudi tersebut enggan memberikan informasi secara detail. Ia hanya menyarankan untuk membuka situs perusahaannya yakni, www.mmhidupituindah.com, atau memantau di Twitter @mm_cab dan Facebook mmcab bila ingin mengetahui informasi tentang taksi supercar ini.

"Maaf Mas, saya belum bisa bicara banyak tentang hal ini, tetapi nanti datang ke acara launching mmcab ini pada 18 Juli 2012 di EX Plaza Indonesia pukul 10.00 WIB," kata si pengemudi.

Dari informasi sebelumnya, taksi supercar ini  masih menjalankan program promosi dengan menggratiskan tumpangan. Jika ingin mencicipi, perusahaan itu menjelaskan, terdapat beberapa pick-up point di sejumlah kawasan di Jakarta.

Di antaranya Gandaria City, Pondok Indah Mall, Senayan City, SCBD, Cilandak Town Square, Mall Taman Anggrek, Central Park, RCTI, Grand Indonesia, Plaza Ex, Wisma Nusantara, Mall Kelapa Gading, Mega Kuningan, Pasar Festival, Mall Ambassador, dan Plaza Semanggi.

MMCab juga mengisyaratkan bahwa program naik supercar taksi ini masih gratis hingga 18 Juli mendatang. Kelak jika sudah resmi dioperasikan, tarif MMCab sekali buka pintu mencapai Rp 100.000.



Sumber : Kompas

Jumat, 22 Juni 2012

Armada Taksi Ibu Kota Perlu Peremajaan

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono

Jumlah taksi yang beredar di Indonesia sudah cukup memadai. Meski demikian, banyak di antaranya dinilai tidak layak beroperasi. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/6/2012), menegaskan pihaknya akan melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap taksi-taksi yang beroperasi di Jakarta.

"Armada taksi yang sudah tidak layak harus segera diremajakan. Kita selalu mengadakan operasi untuk taksi yang tidak layak jalan, apalagi sopir tembak," ujar Udar Pristono.

Ditambahkan olehnya, peremajaan akan berpengaruh terhadap tingkat keselamatan para pengguna jasa transportasi tersebut. Selain itu, beroperasinya taksi-taksi tak layak hanya menambah tingkat kemacetan di Jakarta.

"Kalau bodinya saja sudah 'korengan' mana ada yang mau naik. Jika perusahaan yang baik, sudah pasti segera meremajakan karena otomatis akan meningkatkan pendapatan," ujar Pristono.

Ia memuji langkah perusahaan taksi yang berani mengembangkan taksi kelas premium berukuran besar. Pristono menilai penggunaan kendaraan dengan daya angkut lebih besar atau jumlah kursi lebih banyak akan berpengaruh terhadap penggunaan kendaraan pribadi dan lebih jauh pada kemacetan.

"Kan yang menggunakan taksi premium kebanyakan punya kendaraan pribadi. Nah kalau mereka kolektif naik taksinya, sudah pasti penggunaan kendaraan pribadi dijalan berkurang," katanya.

Apalagi, lanjut Pristono, perusahaan taksi seharusnya bisa memberikan rasa aman, nyaman, dan ketepatan. Dengan layanan yang kian profesional, ia meyakini akan lebih banyak orang yang menggunakan jasa taksi untuk kebutuhan bisnis, kerja, rekreasi, maupun personal.

"Sekarang baru beberapa perusahaan yang mempunyai armada dengan fasilitas pendukung canggih, seperti GPS dan alat pemanggil digital. Mudah-mudahan kedepannya akan lebih banyak lagi," harap Pristono.

Saat ini jumlah armada taksi yang beredar di jalanan Jakarta sekitar 27 ribu unit. Ia memastikan tidak akan ada penambahan armada maupun unit taksi. Yang patut dilakukan adalah peremajaan atas kendaraan yang tak layak operasi. 
 
 
 
Sumber : Kompas
 

Rabu, 06 Juni 2012

Taksi Gelap Masih Marak di Semarang


Taksi gelap tidak menggunakan argo meter masih marak ditemukan di Kota Semarang dan Organisasi Angkutan Darat (Organda) kota setempat mencatat ada sekitar 500 armada taksi dan angkutan kota yang perlu dikandangkan.

"Kendaraan tersebut harus dikandangkan karena tidak menggunakan argo meter, STNK mati, dan lulus KIR," kata Ketua DPC Organda Kota Semarang Deddy Sudiardi.

Deddy mengatakan sebenarnya pihaknya telah meminta kepada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang untuk menindak tegas kasus tersebut.
"Dishubkominfo dapat memberikan sanksi yakni tidak lagi memberikan izin jalan atau operasional untuk kendaraan yang tidak layak," katanya.

Total angkutan di Kota Semarang sebanyak 2.000 unit dan taksi ada 1.800 unit. Dari total armada tersebut, lanjut Deddy, 40 persen di antaranya tidak lagi memenuhi syarat untuk beroperasi dan harus dikandangkan.
Untuk menekan angka kendaraan yang tidak laik jalan, Deddy menegaskan bahwa selama ini Organda rutin mengimbau kepada pengusaha untuk selalu memperhatikan umur kendaraan dan memperbaiki armadanya serta harus lulus uji kelayakan kendaraan.
"Sementara untuk masyarakat pengguna, kami mengimbau terus waspada dan jika mengetahui atau menjadi korban seharusnya segera melaporkan ke Dishubkominfo dengan tembusan Organda," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Cahaya (32) warga Semarang Selatan mengaku menjadi korban penipuan yang dilakukan taksi yang tidak mengunakan argo meter. "Begitu masuk kendaraan, awalnya argo meter dinyalakan. Akan tetapi setelah kendaraan jalan sekitar 500 meter, argo dimatikan dengan alasan rusak. Sejurus kemudian sopir taksi meminta kepada penumpang harga di luar kewajaran," katanya.




Sumber : Republika

Senin, 14 Mei 2012

Fauzi Bowo Lepas Gerak Jalan Massal Blue Bird Group

Fauzi Bowo Lepas Gerak Jalan Blue Bird Grup
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, Minggu (13/5/2012), melepas  acara gerak jalan massal Blue Bird Grup (BBG) di Taman Mni Indonesia Indah (TMII).

Gerak jalan yang diikuti sekitar 20 ribu lebih peserta ini merupakan salah satu acara rangkaian peringatan hari jadi ke- 40 BBG.

Didampingi Direktur BBG Purnomor Prawiro dan istri serta para direksi, Gubernur Fauzi Bowo ikut berjalan bersama para peserta yang terdiri dari pengemudi, karyawan dan keluarga BBG.

Blue Bird Berkembang
Bemula dari hanya 25 taksi di tahun 1972, kini armada Blue Bird Group telah mencapai 21,000 yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia.

Kini layanan Blue Bird Group dapat dinikmati termasuk Jakarta dan sekitarnya, Bali, Bandung, Banten, Lombok, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Manado dan Palembang. Juga di jantung pusat bisnis dan tujuan wisata di seluruh negeri.

Melayani lebih dari 8,5 juta penumpang setiap bulannya, Blue Bird Group telah meluaskan spektrum layanannya, mulai dari  taksi eksekutif (Silver bird),  layanan limousine dan penyewaan mobil (Golden bird), bus carter (Big bird), hingga truk kontainer (Iron bird).
 
Sumber : Berita8
Baca juga

Senin, 26 Desember 2011

Bandung Perlu Tambahan 2.000 Unit Taksi


Wali Kota Bandung Dada Rosada menyebutkan diperlukan penambahan 2.000 taksi baru untuk mendukung Kota Bandung sebagai Kota Metropilitan.

"Saat ini jumlah taksi di Kota Bandung sebanyak 2.000 buah, bila Kota Bandung menjadi metrolitan makan akan dilakukan penambahan 2.000 taksi baru untuk menambah layanan transportasi kota," kata Dada Rosada di sela-sela sosialisasi Kirab Budaya Cap Gomeh 2012 di Gedung Landmark Kota Bandung, Kamis (22/12) malam.

Menurut Dada, penambahan taksi yang refresentatif di Kota Bandung sangat diperlukan untuk mendukung Kota Kembang sebagai sebuah metropolitan.

Namun tentunya, kata Dada juga diikuti dengan langkah-langkah pengaturan dan rekayasan peningkatan kualitas alat transportasi di kota itu.

"Penambahan jumlah taksi akan menjadi sebuah kebutuhan dan harus kita lakukan, sehingga akan sinergi dengan upaya menjadikan Kota Bandung sebagai metropolitan," kata Dada.

Tidak disebutkan kapan Dada berencana untuk menambah armada taksi di kota itu sebagai langkah awal untuk mewujudkan penambahan 2.000 taksi itu.

"Jumlah idealnya Bandung memiliki 5.000 taksi pada saatnya nanti, dengan tambahan 2.000 taksi itupun baru 4.000 unit. Tentunya hal ini akan dibahas lebih lanjut," kata Dada.

Sementara itu terkait kemungkinan penambahan armada taksi itu meningkatkan kemacetan di jalanan Kota Bandung, menurut Dada hal itu akan menjadi pemikiran kedepan. Salah satunya adalah dengan penambahan ruas jalan raya seperti jalan tol dalam kota Bandung Intra Urban Toll Road (Suci - Ujung Berung - Gedebage) yang akan dimulai pembangunannya 2012.

Selain itu rencana pembangunan rel KA cepat Bandung - Jakarta, komuter cepat Padalarang - Bandung - Cicalengka hingga beberapa program pembangunan infrastruktur lainnya.

"Investor dari Prancis akan membangu KA cepat itu, Jalan Tol Dalam Kota juga segera dibangun. Hal itu merupakan bagian dari upaya menjadikan Kota Bandung menjadi sebuah kota metropolitan," kata Dada.

Ia menyebutkan, kepadatan arus lalu lintas di Kota Bandung diakuinya merupakan sebuah konsekwensi dari kemajuan dan Bandung sebagai kota jasa.

"Kemacetan jelas tidak bisa dihindarkan karena Bandung sebagai Kota Jasa, didatangi orang berusaha dan berbisnis. Biar macet asal menghasilkan, namun bukan berarti tidak ada upaya dari pemerintah, upaya ada namun sejauh ini masih terus dilakukan jalan keluarnya," kata Dada Rosada.


Kamis, 24 November 2011

Sopir Taksi Sweeping Penumpang Bluebird

Sejumlah sopir yang melakukan sweeping menurunkan penumpang armada Bluebird PD 050 yang keluar dari Bandara Internasional SMB II Palembang, Rabu (23/11/2011).

Palembang - Dua taksi Bluebird kedapatan membawa penumpang dari dalam (menjemput) dan dipaksa menurunkan penumpang di pintu keluar tiket parkir Bandara Internasional SMB II Palembang, Rabu (23/11/2011).

Salah satunya yang terpantau Sripoku.com armada dengan nomor lambung PD 050 yang membawa seorang wanita berjilbab coklat berjaket kulit membawa dua tas. Satu tas jinjing berwana pink dan travel bag hitam.  

Wanita ini pun terlihat ketakutan bercampur bingung kenapa dirinya dipaksa turun dari taksi bluebird yang ditumpanginya. Ia pun sempat menjawab saat ditanya para sopir bagaiman ia bisa ikut bluebird dari dalam bandara.

"Saya stop dan saya pun naik. Saya mau pulang ke Sukabangun," ujar wanita yang akhirnya diangkut naik taksi bandara berwarna abu-abu Primkopau.

Puluhan sopir taksi Balido dari Koperasi PT Angkasa Pura II (Persero) Palembang dan Primkopau dari Koperasi TNI AU sejak pukul 09.00 melakukan aksi mogok ngetem di depan kantor Balido bahkan hingga ke tepi jalan pintu masuk bandara.

Ramainya armada dan berkumpulnya awak penjual jasa transportasi bandara ini menyedot perhatian kontingen SEA Games XXVI yang hendak naik pesawat. Bahkan beberapa mobil pejabat yang lewat pun sempat memperpelan lajunya kendaraan di pintu masuk tiket parkir bandara.

"Biarlah kami berkorban tidak narik (mengangkut penumpang, red) hari ini sejak pukul 09.00 tadi, asalkan bluebird bisa disingkirkan dari bandara. Bila perlu disingkirkan dari Palembang. Kami seluruh sopir bandara sudah siap," cetus para sopir dengan nada berapi-api.

Melihat masih adanya oknum sopir bluebird yang menaikkan penumpang dari terminal bandara, para sopir ini memperingatkan untuk tidak memancing emosinya.

"Hari ini saja sudah dua yang kedapatan ngangkut penumpang dari dalam. Apabila sudah diperingatkan masih juga, apa boleh buat. Berarti memencing terjadinya anarkhis. Mungkin dilihatnya karena selama SEA Games ini. Jangan tulis nama kami, tulis saja semua sopir bandara dari Balido dan Primkopau," ujarnya lagi.

Menurut mereka, aksi yang dilakukan puluhan sopir bandara ini menuntut agar Blue Bird tidak boleh mengambil penumpang dari dalam bandara yang selama ini merupakan lahan mereka.

Tiga perwakilan sopir dari operator taksi Balido dan tiga dari perwakilan taksi Primkopau pun menemui GM PT Angkasa Pura II (Persero) Palembang Yon Sugiono di kantornya.

"Pertemuannya sudah selesai kita carikan solusi kabaikannya. Kalau Pak GM sifatnya memfasilitasi sarana umum. Harus sama-sama menerima, gak bisa dipatok, win-win solutionlah. Bersaing pelayanan yang terbaik dan tidak memonopoli," jelas Junior Mabager Personel and General Affair PT Angkasa Pura II (Persero) Palembang.

Sementara Brand Manager Blue Bird Palembang Rudi Alwazan yang dihubungi mengaku sedang di bandara sempat menyangkal taksinya mengambil penumpang dari dalam bandara dan menilainya itu miskomunikasi.

"Tadi jam 12 saya panggil. Menurut driver kita ada tamu dari Grand Zuri diantar bersama LO (Liassion Officer). Setelah drop tamu, pas keluarnya LO kan naik kembali dan argonya pun masih jalan Rp 73 ribu. Saya masih koordinasi dengan Pak Yon. Surat resmi sudah kita pegang. Tapi komersial sedang diurus," aku Rudi.

Namun Rudi mengakui selagi urusan komersial (konter dan parkir blue bird di bandara) yang sedang diproses ini belum selesai, para sopir Bluebird tidak diperkenankan mengambil penumpang dari dalam bandara.



Penulis : Abdul Hafiz
Editor : Vanda Rosetiati
 
 
Sumber : TribunNews

Taksi Bandara Stop Operasional


Palembang – Persoalan para sopir taksi bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II yang tak menerima kehadiran taksi baru “Blue Bird” sepertinya memuncak. 

Kemarin, mereka berdemo. Memarkirkan kendaraannya di samping  pintu masuk Terminal Kargo Bandara SMB II Palembang. 

Sebaliknya, sejumlah sopir yang mengaku dari  Primkopau, Balido, dan Kota itu, berjaga di arah pintu keluar bandara. Menunggu sopir  Blue Bird yang membawa penumpang. Bahkan informasinya, mereka nekad memukuli kendaraan Blue Bird yang mengangkut penumpang keluar dari bandara. “Kita stop operasional mulai hari ini (kemarin) di bandara,” ujar perwakilan ratusan sopir taksi dari Primkopau dan Balido, M Rihan, kepada wartawan, kemarin.  
 
 Ia mengaku, tidak akan berhenti melakukan aksi sebelum Blue Bird memutuskan tidak operasional di bandara. “Mau satu atau dua hari, bahkan sampai bulanan kita akan melakukan aksi kalau Blue Bird tidak dihentikan. Kalau bisa juga di wilayah Kota Palembang tidak operasional. Kita juga menunggu keputusan dari kepala cabang kita,” cetusnya. 

Menurut Rihan, sejak beberapa bulan terakhir, pendapatan mereka mengalami penurunan. Sebab, operasionalnya Bus Rapid Transmusi (BRT) di Bandara SMB II juga ikut menyebabkan penurunan tersebut. “Sekarang mau ditambah operasional Blue Bird di bandara, penghasilan kita pasti turun.”

 Sejak di launching lalu, tambah dia, Blue Bird sudah masuk bandara. Ia mengaku, pendapatan mereka turun drastis. “Sejak mereka masuk sebelum SEA Games di bandara, sekitar 30 persen penghasilan kita turun. Kami memohon dengan sangat, Blue Bird jangan operasional di bandara, termasuk di Palembang,” jelasnya.

Namun, ia tak mempersoalkan saat SEA Games lalu Blue Bird operasional.   Hanya, usai even internasional tersebut Metropolis kembali sepi. “Jadi, kalau mereka tetap operasional, kita nggak kebagian penumpang lagi,” ungkapnya seraya mengatakan operasionalnya Blue Bird merusak pasaran angkutan taksi di bandara dan angkutan lain. 

“Kita juga prihatin dengan tukang becak dan ojek karena Blue Bird ini operasional,” tambahnya. Ia memisalkan, tukang becak dan ojek tak akan mendapatkan penumpang karena menggunakan Blue Bird lebih murah. Dari PS (Palembang Square)-PIM (Palembang Indah Mall) biasa mereka mendapat Rp10 ribu-Rp15 ribu, tapi menggunakan Blue Bird cukup membayar Rp7 ribu. 

“Karena Blue Bird menggunakan tarif argo, tidak berdasarkan penentuan tarif minimal,” bebernya. Katanya, bila Blue Bird masih operasional di bandara mereka bakal bertindak anarkis. “Akan kami hancurkan, karena sudah merusak mata pencaharian kami,” tambah Rihan.

Dikatakan, pihaknya kepada penumpang yang menggunakan jasanya ditentukan dengan tarif minimal. Sedangkan Blue Bird tanpa tarif minimal, namun dengan argo. “Kita biasanya dari bandara ke kota Rp45-Rp50 ribu. Tapi, kita nego dengan penumpang, apakah mau tarif minimal atau argo. Faktanya, kebanyakan penumpang bertanya berapa tarifnya ke tempat ini.”

 Ia menambahkahn, sengaja tidak menggunakan argo karena hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit. “Kita tetap menyediakan argo sama halnya dengan Blue Bird, buka pintu Rp5 ribu dan perkilometernya Rp2.500. Tapi, kalau kami seperti itu (argo, red), bagaimana mau bayar setoran? Makanya, kami pakai tarif minimal,” jelasnya yang diamini rekannya yang lain. 

Ia mengaku, pihaknya mengambil kendaraan taksi tersebut secara kredit dari koperasi. Biaya perbulan berkisar Rp4-Rp5 juta. Bila menggunakan argo, ia memastikan tidak akan tercapai karena dengan argo menuju ke kota hanya Rp25-Rp35 ribu. 

Pantauan Sumatera Ekspres, beberapa Blue Bird terlihat keluar masuk bandara. Pengemudinya mengantarkan pengguna jasa ke bandara, tapi langsung keluar tanpa membawa penumpang. Tampak juga taksi lain yang operasional mengangkut penumpang dari Primkopau. 

Setelah mengantar, taksi ini bersama rekannya yang lain kumpul. Saat bersebelahan dengan Blue Bird, pengemudi ini saling lihat. Namun, tak ada percekcokan di antara mereka. Saat Blue Bird keluar, mereka menjadi perhatian dari beberapa sopir taksi yang melakukan aksi mogok. Bahkan, mereka memeriksa isi kursi belakang dan samping sopir Blue Bird tersebut. 

Jamaludin, pria asal Bangka Belitung yang baru mendarat di Bandara SMB II Palembang mengaku heran tak ada taksi yang menawarkan jasa angkutan kepadanya. Padahal, ia harus mengejar travel tujuan Jambi pukul 13.00 WIB. “Kalau nggak ada taksi susah juga, apalagi harus mengejar waktu ke Jambi,” bebernya saat ditemui pukul 12.15 WIB.  

Ia mengaku, kepergiannya ke Jambi karena ingin melihat keluarganya yang masuk rumah sakit di Jambi. Bahkan, kesannya terburu-buru karena orang tua yang sakit tersebut berasal dari Maluku juga ingin melihat keadaan anaknya. “Karena nggak bisa siang, kita terpaksa berangkat nanti malam (semalam, red),” tambahnya. 

Namun, ia juga menyalahkan pihak taksi yang melakukan aksi mogok. Pasalnya, tak semua orang berduit yang turun dari bandara. “Kalau orang kaya nggak masalah main tembak harga atau tanpa argo. Tapi, kalau orang yang ekonominya pas-pasan kan kasihan kalau ditentukan harga. Setidaknya menggunakan argo saja,” ungkapnya.

Yon Sugiono, General Manager PT Angkasa Pura (AP) II mengaku tidak tahu adanya aksi mogok dari para sopir taksi yang mangkal di Bandara SMB II Palembang. “Saya nggak tahu, nggak ada laporan ke saya. Memang dimana?” ujar Yon saat dihubungi koran ini. 

Kepala Security PT AP II, Darso mengungkapkan, aksi mogok operasional yang dilakukan para sopir taksi yang mangkal di Bandara SMB II sudah diredam. “Sudah diredam tadi oleh Pak GM, pada intinya Blue Bird boleh masuk,” ungkap Darso.

Katanya, mereka sudah dikumpulkan dan diberikan saran-saran dalam menghadapi persoalan ini. “Yang jelas, mereka harus berani memperbaiki pelayanan dan menghadapi tantangan. Kenapa harus takut? Kalau kita punya pelayanan baik pasti dipakai,” bebernya. 

Dari hasil pertemuan tersebut ia mengatakan, PT AP II tak mempunyai hak dan wewenang untuk melarang Blue Bird masuk ke kawasannya. “Kita nggak punya kewenangan melarang, mereka punya hak untuk masuk karena resmi izin dari Dishub. Apalagi, transportasi memang dibutuhkan di bandara kalau pelayanan baik akan diacri penumpang,” imbuhnya. 
 
 


Kamis, 10 November 2011

300 Taksi Mewah Siap Antar Delegasi VIP SEA Games

Taksi mewah untuk mengantar delegasi SEA Games

Ratusan taksi Mercedes-Benz berwarna hitam dengan stiker P1 berlatar biru dengan tulisan Sea Games XXVI stand by di parkiran pintu keluar Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (9/11/2011).

"Ini bukan untuk atlet, tapi untuk delegasi VIP dari negara peserta SEA Games", ucap Edi (38) sopir taksi Silver Bird kepada Tribunnews.com di depan Hotel Sultan.

Semua pengemudi taksi mewah ini memang diminta panitia untuk standby di hotel-hotel tempat tamu istimewa menginap, seperti The Continental dan The Sultan Hotel.

"kalau jalan kami dikawal polisi dari mulai berangkat sampai tempat tujuan, jadi enggak akan kena macet", lanjut Edi.

Soal pembayaran pengemudi taksi ini tidak menggunakan argonya saat berjalan, melainkan di sewa oleh panitia Sea Games Jakarta.




Sumber : TribunNews

Senin, 31 Oktober 2011

Dishub Ajak Perusahaan Taksi Lakukan Peremajaan


Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, baru-baru ini mengajak sejumlah perusahaan taksi yang beroperasi di Kota Bengawan untuk melakukan peremajaan armada. Instansi pemerintah kota ini mengimbau enam perusahaan taksi untuk meremajakan armadanya yang berusia di atas sepuluh tahun.

Pertimbangannya, menurut Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Solo, Sri Indarjo, saat ini banyak taksi yang beroperasi sudah tidak nyaman untuk ditumpangi. Sementara sebagai penumpang, konsumen ingin mendapatkan pelayanan prima dari pengelola taksi.

“Dishub telah mengeluarkan imbauan pada perusahaan taksi untuk melakukan peremajaan. Ini karena kondisi di lapangan, kalau dilihat sebagian armada sudah tidak diminati konsumen,” ujarnya, ketika ditemui wartawan, di ruang kerjanya, Kamis (27/10).

Dengan begitu, Indarjo berharap, armada taksi di Solo bisa tampil lebih elegan, sehingga bisa menarik minat konsumen. Terlebih, tahun depan bakal ada perusahaan taksi baru yang akan mengoperasikan armadanya di Kota Bengawan. Oleh sebab itu, kata dia, jika tidak ada persiapan dari sekarang, tentu perusahaan lama bakal kalah bersaing.

Sementara itu, imbauan Dishub Kota Solo mendapat tanggapan miring dari Mahkota Ratu Taksi (MRT) yang memicu polemik antara manajemen dengan pemilik (pengemudi-red) taksi. Menurut salah seorang karyawan perusahaan setempat, Wiwik, imbauan Dishub telah dipelintir manajemen MRT.

Surat edaran dari Dishub digunakan untuk menekan para pemilik taksi untuk meneken pembelian unit baru. Jika hingga 15 November mendatang pemilik taksi tidak melakukan konfirmasi, manajemen MRT akan menyabut ijin trayeknya.

“Padahal ijin trayek masih sampai 2013 besok. Ini yang kami sesalkan karena pemilik taksi tidak diajak bicara dulu,” keluh Wiwik.


Kamis, 27 Oktober 2011

Dua Jam Cukup Rp 79 Ribu


“MAU kemana Mas? Bisa saya antar ke tempat tujuan. Kami dari taksi Blue Bird,”sapa Adi Kusno (43), sopir taksi Blue Bird, saat Sripo baru duduk di dalam taksi. Sripo, yang Senin (24/10) sengaja naik taksi di POM IX depan PS Mall, dibukakan pintu oleh sopir.

Setelah Sripo menyebutkan arah tujuan, Adi yang sudah puluhan tahun jadi sopir langsung mengaktifkan mesin argo. Ia memberitahukan, mesin argo akan berjalan dengan tarif Rp 5.000 per kilometer.

“Kalau ditanya enak nggak jadi sopir taksi Blue Bird saya belum bisa jawab mas karena baru dua hari jadi sopir taksi Blue Bird. Belum terasa betul,” ujar sopir kelahiran Desa Meranjat Kabupaten Ogan Ilir (OI) itu.

Baru lima menit berada di dalam taksi, suasana perbincangan antar Sripo dengan sopir pun berlangsung akrab. Adi tidak tampak kesal meskipun jalan macet. Tampak di dashboard kursi sebelah sopir, terpampang dengan jelas kartu identitas sopir berikut nomor registrasi.

Lagu-lagu dari penyanyi kawakan Iwan Fals pun ditembangkan dari tape mobil taksi. Sementara itu suara operator taksi masih terdengar jelas dari radio taksi yang selalu aktif dan posisi terpasang di bawah kemudi setir.

“Saya dulu sopir keluarga pejabat selama tujuh tahun. Ketika saya baca koran ada lowongan menjadi sopir taksi Blue Bird, saya pun langsung melamar. Alhamdulillah setelah melewati berbagai rangkaian tes, saya pun dinyatakan lulus dan langsung dikontrak,” ujar Adi yang bertempat tinggal di kawasan Jakabaring.

Saat sampai Plaju tepatnya di depan Stadion Patra Jaya, Sripo pun mengajak sopir untuk menuju SPBU di depan Lapangan Golf. Di situ ada antrean panjang kendaraan ber-BBM solar. Adi pun dengan cekatan langsung memutarbalikan arah mobil dan bergegas menuju lokasi. Kondisi jalanan yang ramai dapat dituju dengan waktu yang cukup singkat.

Setelah dari SPBU depan Lapangan Golf, Sripo langsung mengajak sopir untuk menelusuri Jl R Soekamto hingga Jl Demang Lebar Daun untuk memantau kondisi beberapa SPBU yang dipenuhi kendaraan yang hendak mengisi BBM solar.

Lebih Murah
Adi berharap, kehadiran taksi Blue Bird bisa mengubah imej bahwa naik taksi itu mahal.
“Kami mementingkan kejujuran, kenyamanan, dan keamanan bagi penumpang. Percayalah kami tidak akan membawa penumpang berputar-putar. Semua sudah diatur dan pakai argo. Malah tarifnya langsung di-print out,”kata Adi.


Ketika ditanyai apakah menjadi sopir taksi Blue Bird bisa memenuhi kebutuhan kehidupan keluarganya, Adi menjawabnya dengan santai kalau rejeki tidak akan kemana-kemana karena sudah diatur Tuhan.

“Setiap hari kami dapat komisi 30 persen dari hasil tarikan penumpang. Yang membuat semangat setiap dua minggu sekali kami dapat intensif. Sebulan sekali dapat bonus. Tapi semuanya ini bergantung pada kinerja sopir,” ujarnya.

Tak terasa hampir dua jam berada di dalam taksi, perjalanan pun dihentikan di tempat semula naik. Adi pun langsung mematikan mesin argo dan memberikan print out sebagai tanda bukti pembayaran perjalanan. Total perjalanan senilai Rp 79.000 dengan spesifikasi jarak 26,483 km, mulai pukul 12.37 sampai pukul 14.12 dan waktu tunggu selama 35 menit 14 detik.

“Terima kasih Mas atas kepercayaanya menggunakan taksi Blue Bird, kalau selama perjalanan kurang memuaskan kami minta maaf. Dan jika mau menggunakan taksi Blue Bird. Telepon ke 361111 atau bisa cegat di jalan,” ujar Adi dengan senyuman lebarnya.

Taksi Blue Bird sudah tiga hari beroperasional di Kota Palembang  sejak launching, Sabtu (23/10). Taksi ini dikenali melalui logo burung biru.




Sumber : TribunNews


Banyak Taksi Antarkota Beroperasi di Siantar


Komisi III DPRD Siantar menyoroti keberadaan taksi angkutan antarkota yang begitu banyak mangkal di kota ini. Dewan meminta Pemko Pematangsiantar segera menghentikan operasional taksi karena  tidak memberikan kontribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD). Anggota DPRD Komisi III, EB Manurung, Kamis (20/10), menyatakan, keberadaan taksi antarkota itu sama sekali tidak memberi keuntungan bagi pemko.

Ia menjelaskan, kendaraan angkutan yang beroperasi di Kota Pematangsiantar selalu mendapat uji kendaraan. Dari pengujian itu pemko memeroleh PAD. “Sementara taksi antarkota, karena tidak wajib diuji, maka kita tidak mendapatkan apa-apa,” ujarnya.

EB Manurung juga menuding sejumlah taksi antarkota yang mangkal juga merugikan pemko dalam perolehan retribusi parkir. Setiap hari, katanya, ratusan taksi mangkal di badan Jalan Sutomo dan Merdeka, tapi dari pemilik taksi tidak menyetor biaya parkir sesuai perda.

Karena itu, EB Manurung meminta agar DPRD memanggil para pengelola taksi untuk dimintai penjelasan apa manfaat usaha taksi pada pembangunan Kota Pematangsiantar.

“Kita ketahui, taksi menggunakan jalan yang pembuatan dan perawatannya dibiaya pemerintah. Jadi, pengusaha taksi harus bersedia memberi kontribusi,” tambahnya.

Kabid Angkutan Darat Dinas Perhubungan Pemko Pematangsiantar, Moslen Sihotang, mengakui banyak taksi antarkota yang beroperasi di Pematangsiantar. Tapi, hasil penyusuran Dinas Perhubungan, taksi yang beroperasi tersebut mendapatkan izin dari Pempropsu.

Katanya, dalam transportasi antarkota, propinsi memberi izin taksi dan angkutan pariwisata. “Jadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Beberapa taksi antarkota yang beroperasi di Siantar, antara lain Paradep Taxi, Halkit Taxi, Prana Jaya dan Raja Taxi. Menurut Moslen, pihaknya sama sekali tidak memberi izin kepada taksi-taksi itu.

“Di Siantar hanya ada satu izin taksi yang diberikan, yakni Rama Taxi. Rama Taxi kurang beroperasi karena rendahnya minat warga Siantar menumpang taksi dalam kota,” terangnya.

Selain taksi, saat ini yang beroperasi di Siantar didominasi angkutan kota (mopen). Sedikitnya setidaknya ada 24 perusahaan angkutan kota yang beroperasi di Siantar, dengan total armada 2.191 unit.

Diakuinya, ada plat angkot bernomor polisi B. Plat angkot ini dimiliki 18 angkot milik CV Intra. Moslen menambahkan, karena masih memenuhi kuota plafon yang diajukan pengusaha CV Intra, maka Dinas Perhubungan masih menolerir operasional 18 angkot berplat B itu.

“Soal  plat B itu, kami tak berwewenang melarang. Yang berhak untuk itu adalah kepolisian,” katanya. (jannes silaban)





Senin, 24 Oktober 2011

Layani Tamu SEA Games XXVI, Taksi Blue Bird Hadir di Palembang

Walikota Palembang H Eddy Santana Putra (kanan)  menyiramkan kendi ke mobil Taksi Blue Bird (tribunnews.com)

Palembang - Salah satu persoalan yang akan muncul selama pelaksanaan SEA Games XXVI di Palembang yakni transportasi. Sebab selama ini di Palembang setiap hari selalu terjadi kemacetan. Ironinya tidak ada angkutan cepat yang bersifat privasi, seperti taksi.

Oleh karena itu, selama SEA Games XXVI ini, para tamu dari sejumlah negara dari Asia Tenggara akan dilayani oleh taksi Blue Bird. Taksi ini akan mangkal di sejumlah hotel, pusat keramaian, dan bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

“Dengan adanya taksi Blue Bird, diharapkan transportasi tidak akan menjadi persoalan bagi para tamu yang mengikuti SEA Games XXVI,” ujar Walikota Palembang, Eddy Santana Putra, saat peluncuran taksi Blue Bird di Palembang, di halaman Kantor Walikota Palembang, Sabtu (22/10/2011) sore.

Eddy mengharapkan kehadiran Blue Bird di Palembang bukan sebatas pada pelaksanaan SEA Games XXVI saja. Namun, untuk jangka waktu yang panjang dan lebih lama, karena di Palembang saat ini sudah tumbuh menjadi kota yang sangat sibuk.

“Puluhan hotel berbintang tiga dan empat sudah memenuhi Palembang. Jadi, sangat dibutuhkan taksi seperti Blue Bird. Selama ini ada taksi di Palembang, tapi tidak seperti Blue Bird,” kata Eddy.

Namun, Eddy mengharapkan taksi Blue Bird yang ada di Palembang harus
memasukan icon budaya Palembang di taksinya. “Misalnya ada icon kain songket di badan mobilnya,” ujar Eddy.

Kehadiran taksi Blue Bird juga mendapat sambutan baik dari Sultan Palembang, Iskandar Mahmud Badaruddin. Sultan yang juga seorang pengusaha ini menilai, selama ini para tamu yang hadir ke Palembang selalu mengeluhkan soal minimnya moda transportasi taksi.

“Saya senang dengan kehadiran taksi Blue Bird ini. Para tamu di Palembang selalu mengeluhkan soal minimnya taksi di Palembang. Dengan adanya taksi Blue Bird ini, akan merasa nyaman,” terangnya.

Taksi Blue Bird di Palembang ini pada tahap awal akan beroperasi sebanyak 50 unit, nantinya pada pelaksanaan SEA Games XXVI akan bertambah hingga 100 unit. Tarif taksi Blue Bird yang berlaku di Palembang harganya lebih murah dibandingkan di Jakarta. Flag Fall (Tarif Buka Pintu) Rp 5.000, per kilometer Rp 2.500, waktu tunggu Rp20.000. Minimun payment Rp 20.000, dan cancelation fee Rp 5.000. Nomor pelayanan 24 jam Blue Bird di Palembang 0711-361111.




Sumber : Detik

Rabu, 19 Oktober 2011

Taksi : Salah Satu Bagian Dari Omnibus Fisfic


Sebuah cerita dalam FISFIC 6.1 yang menyajikan teror yang familiar di seputar ketakutan masyarakat kota besar adalah TAKSI. TAKSI adalah salah satu dari keenam cerita fantasi yang lolos oleh penjurian FISFIC, dan diproduseri oleh Lifelike Production. TAKSI akan ditayangkan di Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFFF) di Blitz Megaplex pada pertengahan November.

TAKSI adalah kisah thriller yang mengikuti pengalaman seorang wanita muda bernama Fina dalam perjalanannya pulang pada suatu malam. Karena terpaksa pulang sendirian, ia harus menumpangi sebuah taksi yang ditemuinya sebagai satu-satunya bentuk transportasi. Berbagai rintangan dihadapi Fina dalam usahanya mencari jalan pulang, yang dibuka dengan kesulitannya menemukan taksi terpercaya... yang kemudian diikuti serentetan kejadian yang berkembang bagai mimpi buruk seiring larutnya malam.


Naskah TAKSI ditulis oleh Nadia Yuliani, yang kemudian diterjemahkan menjadi bentuk film pendek dengan Arianjie AZ sebagai sutradara dan Titis Sapto Raharjo sebagai produser. TAKSI merupakan film pendek pertama yang diproduksi oleh Arianjie, Titis dan Nadia. TAKSI juga di-codirect oleh Ferry Arya Seto dan Audy Sutama, serta di-coproduseri oleh Christina Levina.
Tokoh utama Fina dalam TAKSI diperankan oleh aktris Shareefa Daanish, yang mewarnai ketegangan dalam film pendek ini bersama dengan peran-peran pendukung yakni Hendra Louis, Manahan Hutauruk dan Alex Loppies.

Sinematografi TAKSI dirancang oleh tim Dimas Wisnuwardono dan Shakti Siddarta, dengan didukung oleh efek khusus kamera dari Erich Silalahi. Musik dan sound design dalam TAKSI dirangkai oleh Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal. Bersama dengan kru lainnya dalam TAKSI yang rata-rata usianya masih terbilang sangat muda, mereka membangun atmosfer teror dari sudut-sudut gelap ibukota dengan nuansa mencekam yang modern.

TAKSI akan diputar resmi ke publik beserta 5 film pendek peserta FISFiC lainnya pada tanggal 14 Oktober 2011 di Indonesia International Fantastic Film Festival 2011 dan rencananya akan dirilis dalam bentuk DVD oleh Jive Collection.


Taksi baru saja merilis tiga teaser poster. Ketiga poster ini berkonsep hitam putih.  Dan tentu sebagai teaser, ketiga poster berikut mengundang " tanda tanya" seperti apakah film ini nanti.







Sumber : http://www.boleh.com/


Baca lagi

Game Online

Taxi Truck

Play free Games - a game from Driving | Racing Games